Rabu, 14 Oktober 2015

Terjemahan Kitab Nahu Jurumiyyah

Definisi Kalam

BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM
Saya mulai dengan menyebut Asma Allah yg Maha Pemberi nikmat besar dan Maha Pemberi nikmat kecil

الكلامُ: هو اللفظُ المُرَكَّبُ المُفيدُ بالوَضْع.

AL-KALAAMU: HUWAL-LAFZHUL-MUROKKABUL-MUFIIDU BIL-WADH’I
Kalam adalah lafazh yg tersusun yg memberi faidah, dengan wadho’ (disengaja/berbahasa arab)
LAFAZH = suara huruf yg mecakup huruf-huruf hijaiyah. seperti ZAIDUN, AMRUN, BAKRUN, ALIY dsb.

MUROKKAB = tersusun dari dua kalimah atau lebih. contoh : QOOMA ZAIDUN, DHOROBA AMRUN, BAKRUN ‘AALIMUN dsb.

MUFIID = perkataan yg memberi suatu faidah, contoh QOOMA ZAIDUN berfaidah bahwa zaid telah berdiri. sehingga yg mendengar cukup memahami maksud perkataan tanpa ada kekurangan atau keisykalan, begitupun bagi si pembicara dicukupkan waqof di kalimat ini karena sudah mengandung faidah. yg dalam istilah nahwu disebut YAHSUNUS-SUKUUT.BIL WADH’I = disengaja, sehingga perkataan orang yg tidur atau tidak sadar tidaklah disebut kalam. ada yg mengatakan Wadho’ itu adalah perkataan bahasa arab, sehingga perkataan orang ajam tidaklah disebut kalam menurut ilmu Nahwu.

Bagian-bagian Kalam

وأقسامه ثلاثة: اسم، وفعل، وحرف جاء لمعنى

WA AQSAAMUHUU TSALAATSATUN: ISMUN, WA FI’LUN, WA HARFUN JAA’A LI MA’NAN
Bagian-bagian dari kalam itu ada tiga kalimah: 1. Kalimah Isim, 2. Kalimah Fi’il, 3. Kalimah Huruf yg datang sebagai Huruf Ma’ani
1. KALIMAH ISIM (kata benda) = kalimah yg menunjukkan suatu makna/arti pada dirinya. dan tidak dipergunakan untuk bersamaan dengan zaman/masa. contoh: ZAIDUN = zaid (isim alam/nama seseorang). ANA = saya (isim dhamir/kata ganti orang pertama) HADZA = ini (isim isyaroh/kata tunjuk) dll.
2. KALIMAH FI’IL (kata kerja) = kalimah yg menunjukkan suatu makna pada dirinya sendiri dan dipergunakan bersamaan dengan penggunaan masa/zaman/waktu.
kalau untuk masa lampau disebut FI’IL MADHI (kata kerja lampau) contoh QOOMA = telah berdiri.
kalau untuk masa sekarang dan akan datang disebut FI’IL MUDHARI’ (kata kerja berlangsung atau akan berlangsung) contoh YAQUUMU = sedang/akan berdiri.
kalau untuk menunjukkan penuntutan pada masa akan datang disebut FI’IL AMAR (kata kerja perintah) contoh QUM..! = berdirilah..!
3. KALIMAH HURUF (kata tugas) = kalimah yg menujukkan suatu makna/arti kepada yg lain. contoh ILAA = ke, HAL = adakah?, LAM = tidak.

TANDA-TANDA KALIMAT ISIM

 فالاسم يعرف: بالخفض، والتنوين، ودخول الألف واللام، وحروف الخفض

FAL-ISMU YU’ROFU: BIL-KHAFDHI, WAT-TANWIINI, WA DUKHUULIL-AALIFI WAL-LAAMI, WA HURUUFIL-KHAFDHI
Kalimat Isim dapat diketahui dengan (tanda-tandanya) 1. Khofadh, 2. Tanwin 3. Masuknya AL 4. Masuknya Huruf Jar/Khofadh.
Tanda bahwa Kalimat tsb adalah Kalimat Isim sehingga dapat dibedakan dengan kalimat yg lain (Fi’il dan Huruf) adalah dengan mengetahui empat tanda-tandanya sebagai berikut :
Tanda Isim yg pertama, KHOFADH/JAR, contoh :
مررت بزيد
MARORTU BI ZAIDIN = aku berpapasan dengan Zaid
Lafazh ZAIDIN dikhofadhkan oleh huruf jar.
غلام زيد
GHULAAMU ZAIDIN = Pemudanya Zaid
Lafazh ZAIDIN dikhofahkan oleh Ghulaamu susunan idhofah.
Tanda Isim yg kedua, TANWIN, contoh :
مررت بزيد
MARORTU BI ZAIDIN = aku berpapasan dengan Zaid
Lafazh ZAIDIN dikhofadhkan oleh huruf jar.
زيدٌ، ورجلٌ
ZAIDUN WA ROJULUN = Zaid dan Seorang Pria
Lafazh ZAIDUN dan ROJULUN disebut kalimat Isim karena ada tanda TANWIN padanya.
Tanda Isim yg ketiga, MASUKNYA AL, contoh :
الرجل والغلام
AR-ROJULU WA AL-GHULAAMU = Seorang Pria dan Seorang Pemuda
Lafazh AR-ROJULU dan AL-GHULAAMU disebut kalimat Isim karena tanda dimasuki AL padanya.
Tanda Isim yg keempat, dimasuki HURUF KHOFADH/JAR, contoh :
مررت بزيد
MARORTU BI ZAIDIN = aku berpapasan dengan Zaid
Lafazh ZAIDIN disebut kalimat ISIM karena dimasuki oleh huruf Khofadh (kalimat huruf amil khofad/jar)

HURUF-HURUF KHAFADH / HURUF JAR

وهي: من، وإلى، وعن، وعلى، وفي, ورب، والباء، والكاف، واللام، وحروف القسم وهي: الواو، والباء، والتاء
WA HIYA: MIN, WA ILAA, WA ‘AN, WA ‘ALA, WA FIY, WA RUUBA, WAL-BAA’U, WAL-KAAFU, WAL-LAAMU, WA HURUUFUL-QOSAMI WAHIYA: AL-WAAWU, WAL-BAA’U, WAT-TAA’U.

Huruf Khofadh (tanda isim) ada sembilan yaitu : MIN (dari), ILAA (ke), ‘AN (dari), ‘ALAA (diatas), FIY (didalam), RUBBA (jarang/sering), BA’ (dengan), KAF (seperti), LAM (bagi), HURUF QOSAM (huruf sumpah) yaitu: WAWU (demi), BA’ (demi) dan TA’ (demi).
KETERANGAN :

Huruf-huruf khofadh yg beramal mengkhofadhkan kalimat isim, sekaligus sebagai tanda kalimat isim itu sendiri semuanya berjumlah sembilan huruf. dalam kitab lain sering disebutkan dalam bab makhfudhatul-asmaa (isim-isim yg dikhofadhkan).
Huruf-huruf khofadh/Jar yaitu :
MIN (من)

Dalam penggunaan huruf Jar MIN ini, sering mempunyai faidah atau fungsi pemaknaan yg berbeda-beda tergantung konteks kalimat, diantaranya adalah :
1. Ibtida’ul-Ghayah / permulaan batas, baik secara zaman atau tempat, contoh
سرت من الغد
SIRTU MINAL-GHODI = aku pergi mulai besok
خرجت من البيت
KHOROJTU MINAL-BAITI = aku keluar dari rumah.
2. Tab’iidh / pembagian dari, contoh :
أخذت من الدراهم
AKHODZTU MINAD-DAROOHIMI = aku mengambil sebagian dari Dirham
3. Tabdiil / pergantian dari, contoh :
أرضيتم بالحياة الدنيا من الآخرة
ARODHIITUM BIL-HAYAATID-DUNYAA MINAL-AAKHIROTI = Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat?
4. Bayanul-Jinsi / penerangan jenis, contoh :
فاجتنبوا الرجس من الأوثان
FAJTANIBU AR-RIJSA MINAL-AUTSAANI = maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu
5. Ta’liil / pengajuan sebab atau alasan
مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا
MIN-MAA KHOTHII’AATIHIM UGHRIQUU FADKHULUU NAARAN = Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka,
6. Sebagai Shilah apabila masuk pada isim nakirah dan di sebelumnya ada Nafi, Nahi atau Istifham, contoh :
ما جاء من أحد
MAA JAA’A MIN AHADIN = tidak seorangpun datang
لا تضرب من أحد
LAA TADHRIB MIN AHADIN = jangan pukul siapapun
هل رأيت من أحد
HAL RO’AITU MIN AHADIN = apakah kamu melihat seseorang?
7. Berfaidah makna BA’, contoh :
ينظرون من طرف خفي
YANZHURUUNA MIN THORFIN KHOFIYYIN = mereka melihat dengan pandangan yang lesu
8. Berfaidah makna ‘AN, contoh :
فويل للقاسية قلوبهم من ذكر الله
FAWAILUN-LILQOOSIYATI QULUUBUHUM MIN DZIKRILLAAHI = Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya daripada mengingat Allah
9. Berfaidah makna FIY, contoh :
أروني ماذا خلقوا من الأرض
ARUUNIY MAADZAA KHOLAQUU MINAL-ARDHI = Perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah di bumi ini yang telah mereka ciptakan
10. Berfaidah makna ‘INDA, contoh :
لن تغني عنهم أموالهم ولا أولادهم من الله شيئا
LAN TUGHNIYA ‘ANHUM AMWAALUHUM WA LAA AWLAADUHUM MINALLAAHI SYAI’AN = Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka
11. Berfaidah makna ‘ALAA, contoh :
ونصرناه من القوم
WA NASHORNAAHU MINAL-QOWMI = Dan Kami telah menolongnya atas kaum.
ILAA (إلى)
bersambung……….

Share this:

Tanda-tanda Kalimat Fi’i

والفعل يعرف بقد، والسين، وسوف، وتاء التأنيث الساكنة

Tanda-tanda Kalimat Huruf

والحرف ما لا يصلح معه دليل الاسم ولا دليل الفعل

Pembagian I’rab

وأقسامه أربعة: رفع، ونصب، وخفض، وجزم. فللأسماء من ذلك الرفع، والنصب، والخفض، ولا جزم فيها, وللأفعال من ذلك: الرفع، والنصب، والجزم, ولا خفض فيها

Definisi I’rab

باب الإعراب
الإعراب هو تغيير أواخر الكلم، لاختلاف العوامل الداخلة عليها لفظا أو تقديرا 

Tanda I’rab Rafa’

باب معرفة علامات الإعراب
BABU MA’RIFATI ‘ALAAMAATIL-I’RAABI
Bab mengetahui tanda-tanda I’rab
للرفع أربع علامات: الضمة، والواو، والألف، والنون.
LIR-ROF’I ARBA’U ‘ALAAMAATIN: ADHDHAMMATU, WAL-WAAWU, WAL-AALIFU, WAN-NUUNU.
I’rab Rafa’ mempunyai empat tanda: 1. Harkat Dhammah 2. Huruf Wawu 3. Huruf Alif 4. Tetapnya Nun.
Untuk mengetahui bahwa kalimat itu sedang rofa’ adalah dengan cara mengetahui salah satu Tanda Rofa’ atau Alamat Rofa’ yg empat diatas pada kalimah tersebut

1. Harkat Dhommah (ُ ) contoh :
جاء زيدٌ
JAA’A ZAIDUN = Zaid telah datang.
Lafazh ZAIDUN menjadi fa’il yg dirofa’kan dengan tanda rofa’nya HARKAT DHOMMAH.
2. Huruf Wawu (و) contoh :
جاء أبوك
JAA’A ABUUKA = Ayahmu telah datang
جاء الزيدون
JAA’A AZ-ZAIDUUNA = Beberapa Zaid telah datang
Lafazh ABUUKA dan AZ-ZAIDUUNA menjadi fa’il yg dirofa’kan dengan tanda rofa’nya HURUF WAWU
3. Huruf Alif (ا) contoh :
جاء الزيدان
JAA’A AZ-ZAIDAANI = dua Zaid telah datang
Lafazh AZ-ZAIDAANI menjadi fa’il yg dirofa’kan dengan tanda rofa’nya HURUF ALIF
4. Tetapnya Nun (ن) contoh :
يضربان
YADHRIBAANI = dua orang lelaki sedang/akan memukul
Lafazh YADHRIBAANI adalah Fi’il Mudhari’ yg dirofa’kan dengan tanda rofa’nya TETAPNYA NUN
Perlu diketahui bahwa Harkat Dhommah merupakan tanda rofa’ yg asli, sedangkan tiga tanda rofa’ sisanya setatusnya sebagai tanda rofa’ pengganti Harkat Dhommah.


bersambung




Tanda I’rab Rafa’


Tanda I’rab Rafa’

باب معرفة علامات الإعراب

BABU MA’RIFATI ‘ALAAMAATIL-I’RAABI
Bab mengetahui tanda-tanda I’rab

للرفع أربع علامات: الضمة، والواو، والألف، والنون.

LIR-ROF’I ARBA’U ‘ALAAMAATIN: ADHDHAMMATU, WAL-WAAWU, WAL-AALIFU, WAN-NUUNU.

I’rab Rafa’ mempunyai empat tanda: 1. Harkat Dhammah 2. Huruf Wawu 3. Huruf Alif 4. Tetapnya Nun.
Untuk mengetahui bahwa kalimat itu sedang rofa’ adalah dengan cara mengetahui salah satu Tanda Rofa’ atau Alamat Rofa’ yg empat diatas pada kalimah tersebut

1. Harkat Dhommah (ُ ) contoh :
جاء زيدٌ
JAA’A ZAIDUN = Zaid telah datang.
Lafazh ZAIDUN menjadi fa’il yg dirofa’kan dengan tanda rofa’nya HARKAT DHOMMAH.
2. Huruf Wawu (و) contoh :
جاء أبوك
JAA’A ABUUKA = Ayahmu telah datang
جاء الزيدون
JAA’A AZ-ZAIDUUNA = Beberapa Zaid telah datang
Lafazh ABUUKA dan AZ-ZAIDUUNA menjadi fa’il yg dirofa’kan dengan tanda rofa’nya HURUF WAWU
3. Huruf Alif (ا) contoh :
جاء الزيدان
JAA’A AZ-ZAIDAANI = dua Zaid telah datang
Lafazh AZ-ZAIDAANI menjadi fa’il yg dirofa’kan dengan tanda rofa’nya HURUF ALIF
4. Tetapnya Nun (ن) contoh :
يضربان
YADHRIBAANI = dua orang lelaki sedang/akan memukul
Lafazh YADHRIBAANI adalah Fi’il Mudhari’ yg dirofa’kan dengan tanda rofa’nya TETAPNYA NUN
Perlu diketahui bahwa Harkat Dhommah merupakan tanda rofa’ yg asli, sedangkan tiga tanda rofa’ sisanya setatusnya sebagai tanda rofa’ pengganti Harkat Dhommah.

 

Pengertian Nahwu Shorof

Pengertian Nahwu Shorof

NAHWU adalah kaidah-kaidah  Bahasa Arab untuk mengetahui bentuk kata dan keadaan-keadaannya ketika masih satu kata (Mufrod) atau ketika sudah tersusun (Murokkab). Termasuk didalamnya adalah pembahasan SHOROF. Karena Ilmu Shorof bagian dari Ilmu Nahwu, yang ditekankan kepada pembahasan bentuk kata dan keadaannya ketika mufrodnya.
Jadi secara garis besar, pembahasan Nahwu mencakup pembahasan tentang bentuk kata dan keadannya ketika belum tersusun (mufrod) , semisal bentuk Isim Fa’il mengikuti wazan فاعل, Isim Tafdhil mengikuti wazan أفعل, berikut keadaan-keadaannya semisal cara mentatsniyahkan, menjamakkan, mentashghirkan dll. Juga pembahasan keadaan kata ketika sudah tersusun (murokkab) semisal rofa’nya kalimah isim ketika menjadi fa’il, atau memu’annatskan kalimah fi’il jika sebelumnya menunjukkan Mu’annats dll.
Satu kata dalam Bahasa Arab disebut Kalimah (الكَلِمَة) yaitu satu lafadz yang menunjukkan satu arti.
Kalimat atau susunan kata dalam Bahasa Arab disebut Murokkab (المُرَكَّب). Jika kalimat / susunan kata tersebut telah sempurna, atau dalam kaidah nahwunya telah memberi pengertian dengan suatu hukum ” Faidah baiknya diam” maka kalimat sempurna itu disebut Kalam (الكَلاَم) atau disebut Jumlah (الجُمْلَة).
Kalimah-kalimah dalam Bahasa Arab, diringkas menjadi tiga macam:
1. Kalimah Fiil (الفِعْلُ) = Kata kerja
2. Kalimah Isim (الإِسْمُ) = Kata Benda
3. Kalimah Harf (الحَرْفُ) = Kata Tugas.
Khusus untuk Kalimah Fi’il, bisa dimasuki: قد, س, سوف, Amil Nashob ان dan saudara-saudaranya, Amil Jazm, Ta’ Fa’il, Ta’ Ta’nits Sakinah, Nun Taukid, Ya’ Mukhotobah.
Khusus untuk Kalimah Isim, bisa dimasuki: Huruf Jar, AL, Tanwin, Nida’, Mudhof, Musnad.
Khusus untuk Kalimah Harf, terlepas dari suatu yang dikhusukan kepada Kalimah Fiil dan Kalimah Isim.
Menurut wazannya, asal Kalimah terdiri dari tiga huruf, 1. Fa’ fi’il, 2. ‘Ain Fi’il, 3. Lam Fi’il (َفَعَل). Apabila ada tambahan asal, maka ditambah 4. Lam fi’il kedua (َفَعْلَل). Apabila ada tambahan huruf bukan asal. maka ditambah pula pada wazannya dengan huruf tambahan yang sama, semisal  ٌمُسْلِم ada tambahan huruf Mim didepannya, maka ikut wazan مُفْعِلٌ.

Pelajaran selanjutnya →

Pembahasan Kata Kerja

Belajar Ilmu Nahwu dan Shorof